Kamis, 30 September 2010

Mengapa Tidak Menulis?

(Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc.; Pustakawan Utama pada Perpustakaan IPB)

Penulis kenal Pak Blasius Sudarsono sejak beliau menjabat Kepala PDII-LIPI. Namun perkenalan intens penulis dengan beliau dimulai sejak penulis berkesempatan ikut mobil beliau dari Bandung ke Bogor. Kesempatan itu terjadi sekitar tahun 1998. Saat itu penulis menghadiri Workshop on Library Information Technology and Resource Sharing, yang diselenggarakan oleh Eastern Indonesia Universities Development Project, di Hotel Holiday Inn, Bandung. Saat pertemuan bubar dan semua peserta check out dari hotel, beliau menawarkan apakah penulis mau ikut bersamanya pulang dan akan mendrop penulis di Bogor, sementara beliau akan meneruskan perjalanan ke Jakarta. Dalam perjalanan dari Bandung menuju Bogor itulah penulis mulai berkenalan intens dengan Pak Dar, demikian ia kerap disapa. Banyak pikiran beliau yang penulis nilai terlampau jauh ke depan, didiskusikan dengan penulis. Lalu pada akhirnya, penulis menyarankan kepada beliau untuk menuliskan ide-idenya tersebut dalam bentuk buku. Namun beberapa tahun setelah itu penulis tunggu buku beliau belum kunjung muncul. Penulis tidak bosan untuk selalu menagih janji kepada beliau agar beliau menuliskan pikirannya dalam bentuk buku. Penantian penulis tidak sia-sia, karena pada tahun 2006 buku beliau muncul dan di“launching” di Denpasar pada kesempatan Kongres Ikatan Pustakawan Indonesia ke X. Buku tersebut diberi judul “Antologi Kepustakawanan”. Beberapa tahun kemudian terbit buku beliau yang kedua dan lagi-lagi di”launching” pada waktu para pustakawan berkumpul yaitu pada acara Munas ISIIPI yang digabung dengan Munas Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) di Bandung pada tanggal 17 November 2009. Kali ini buku tersebut diberi judul “Pustakawan, Cinta dan Teknologi.” Artikel-artikel pada kedua buku tersebut sangat sarat dengan ide dan pemikiran beliau untuk memajukan dan mengembangkan kepustakawanan Indonesia.

Apa pelajaran yang dapat dipetik dari kinerja Pak Dar ini bagi para pustakawan, khususnya penulis? Maka jawabannya tidak lain adalah seperti pada judul tulisan ini yaitu mengapa tidak menulis? Pertanyaan sekian tahun yang lalu penulis lontarkan kepada Pak Dar, menjadi bumerang bagi penulis sendiri. Maka penulis berjanji kepada diri sendiri bahwa penulis akan menulis buku sekurang-kurangnya satu judul setiap tahun, dan menulis artikel bidang kepustakawanan sekurang-kurangnya tiga judul setiap tahun. Dan yang terakhir ini lebih ekstrim, mengapa penulis tidak menuliskan saja apa yang ada dalam pikiran penulis setiap hari? Sehingga dalam satu tahun setidaknya ada 300 artikel pendek. Ini jika penulis asumsikan bahwa penulis libur tidak menulis selama 65 hari dalam satu tahun. Semoga kepala penulis tidak pernah kering dari ide.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar