Selasa, 28 September 2010

Menanti Perubahan di Perpustakaan Nasional RI

(Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc.; Pustakawan Utama pada Perpustakaan IPB)

Memiliki Perpustakaan Nasional bagi suatu negara merupakan suatu keniscayaan, termasuk Indonesia. Bagi Indonesia Perpustakaan Nasionalnya masih tergolong sangat belia yaitu baru dibentuk tahun 1980 dan baru berfungsi sebagai perpustakaan nasional sesungguhnya sejak tahun 1989. Bandingkan dengan British Library yang berdiri sejak tahun 1753 sebagai British Museum (dengan sejarah yang panjang dan baru menjadi British Library pada tahun 1972), atau Library of Congress yang berdiri sejak tahun 1800. Keberadaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini kemudian mendapat legitimasi tertinggi sejak lahirnya UU 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan.

Perpustakaan nasional kita sejak lahir telah dipimpin oleh tiga orang Kepala yaitu Mastini Harjoprakoso, MLS; Hernandono, MLS, MA.; dan Drs. Dady P. Rachmananta, MLIS. Sejak sekitar dua bulan yang lalu pemimpin perpustakaan nasional ke empat telah lahir, yaitu sejak Dra. Sri Sularsih, M.Si. dilantik menjadi Kepala Perpustakaan Nasional RI. Banyak harapan masyarakat yang ditumpukan kepada pundak kepala perpusnas yang baru ini. Tidak heran, karena selama ini perpustakaan nasional kita terkesan sangat lamban berkembang dengan kinerja yang sangat buruk. Salah satu yang sangat terasa bagi masyarakat, khususnya penerbit, adalah lambannya pelayanan pemberian ISBN bagi buku yang akan diterbitkannya, bahkan selain lamban layanan ini menuntut suatu biaya tertentu. Layanan ini sudah menjadi polemik di kalangan masyarakat perpustakaan dan penerbit, bahkan sudah dibahas di koran-koran nasional. Namun setelah dua bulan berlangsung, harapan terjadinya perubahan tersebut belum kunjung muncul. Beberapa hal yang penting misalnya posisi pejabat yang kosong masih dibiarkan seperti apa adanya. Bisa dimengerti kalau kepala yang baru tersebut sangat berhati-hati dalam memilih para pembantu terdekatnya, sebab pilihannya merupakan taruhan bagi kinerja tim yang dia bentuk selama lima tahun ke depan. Salah pilih orang dapat menyebabkan tersendatnya program kerja dia ke depan. Namun demikian hendaknya kepala yang baru ini jangan terlalu banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan sehingga terlalu lama tidak menampakkan perubahan apa-apa dalam periode awal kepemimpinannya. Semua mata tertuju kepada kinerja beliau. Bahkan jika pimpinan tersebut adalah seorang presiden, maka perubahan tersebut dituntut sebagai program kerja 100 hari pertama pada masa jabatannya. Sayapun mengerti jika kepala yang baru tersebut menginginkan perubahan pada banyak hal. Ini terlontar dari pembicaraan beliau kepada saya pada beberapa kesempatan pertemuan yang sangat langks dengan beliau. Saya pernah menyampaikan pada kesempatan pertemuan dengan beliau bahwa melakukan perubahan tersebut ibarat seorang pandai besi yang akan membuat suatu bentuk dari besi yang sedang ditempanya. Besi tersebut dapat diubah bentuknya selagi panas membara. Jika besi sudah dingin, maka siapapun akan sulit melakukan perubahan bentuk dari besi yang tidak beraturan menjadi suatu bentuk yang kita inginkan, misalnya sebuah pisau. “Jadi,” kata saya saat itu, “Ibu kepala harus memanfaatkan kondisi awal yang sedang membara tersebut untuk segera melakukan perubahan. Jangan menunggu suasana dingin. Jika tidak, maka Ibu akan kehilangan momentum. Dan jika Ibu kehilangan meomentum, maka perubahan apapun yang Ibu bisa lakukan akan menghadapi kendala yang amat sangat berat.” Yang melegakan bagi saya adalah jawaban beliau. “Tunggu Pak, sesudah hari raya Idul Fitri 1431 H, perubahan itu akan terjadi.” Nah, tulisan ini saya buat pada hari H+7 Idul Fitri 1431. Sayapun menunggu janji beliau. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar